Rangkuman Carapandang teori ORGANISASI | CARAPANDANG PNGALAMAN
Berlandaskan pendekatan sistem Fremont E. Kast &
James E. Rosenzweig memberikan definsi organisasi sebagai
1. subsistem dari lingkungan yang lebih
luas, terdiri dari orang-orang yang berorientasi tujuan dengan suatu maksud
2. subsistem teknik – orang-orang
memakai pengetahuan, teknik, peralatan dan fasilitas.
3. subsistem struktural – orang-orang
bekerja bersama dengan kegiatan terpadu
4. subsistem psikososial – orang-orang
dalam hubungan sosial
5. subsistem manajerial – yang
menkoordinasi subsistem-subsistem dan rencana-rencana dan kontrol terhadap
semua usaha.
Definisi organisasi yang telah dikemukakan serta
ditunjukan dengan gambar tersebut diuraikan dengan lebih rinci sebagai berikut
:
Dalam organisasi terdapat subsistem-subsistem yang
berupa ss tujuan dan nilai, ss teknik, psikosial, struktural dan manajerial.
Organisasi sebagai subsistem sosial haurs dapt mencapi tujuan tertent yang
ditentukan oleh sistem yang lebih luas. Steknik dlm organisasi berarti bahwa
org harus memilki pengetahuan, teknik peralatan serta fasilitas yang diperlukan
untuk malaksanakan pengolahan input menjadi output. Ss psikososila dalam
organiasi berati bahwa organ terdiri dari individu-individu dan kelompok2 yang
saling berpengaruh yang melibatkan prilaku, motivasi dan hubungan status dan
peranan, dinamika kelompok, sistem pengaruh, sistem nilai, sikap, penghargaan ,
aspirasi para anggota organisasi.. ssturktural dalam organisasi berarti adanya
pembagian tugas dan koordinasi, bagan organisasi, kedudukan, gambaran pekerjaan
peraturan prosedur weewnagn komunikasi aliran kerja. Subsistem manajerial dalam
org berarti menjangkau seluruh organiasai yang menghubungkan organisasi deng
leingunganya , keseluruhan pengembangan , strategi, rencana operasi, rancangan
sturktur dan kontrol.
7. Carapandang pengalaman
Cara pandang pengalaman bertitik tolak dari pendirian akan pentingnya peranan pejabat dalam organisasi dalam usahanya memperoleh pengalaman dari kerjanya.
Apabila pejabat masing-masing dapat bekerja dengan hasil baik, maka organisasi sebagai keseluruhan pun juga akan berhasil. Menurut pendekatan pengalaman sesuatu asas organisasi harus diperoleh melalui praktik. Ada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa pengalaman merupakan guru yangbaik, apabila yang bersangkutan dapat mengambil manfaat baik daripadanya.
8. Carapandang formalisma
Carapandang ini mengutamakan segalanya harus terumus dengan jelas dan resmi lebih dahulu barulah pelaku dapat mengerjakan dengan baik. Para pelaku organisasi akan bekeja secara benar apabila yang bersangkutan telah diberikan rumusan yang jelas mengenai kedudukannya dalam struktur, rincian tugas yang akan dikerjakan, wewenang yang dimiliki, dengan siapa harus berkoordinasi, dari siapa mendapat perintah, ke[ada siapa harus melapor, disertai tata kerja, tatacara, tatalangkah,, dan syarat untuk melakukan pekerjaan.
9. Carapandang Spontanitas
Dilandasi oleh pemikiran bahwa aktivitas dalam organisasi akan berhasil mencapai tujuannya apabila aktivitas itu timbul dengan sendirinya. Carapandang spontanitas mengutamakan organisasi informal(organisasi informal kekuatan organisasi paling efektif, memberikan pemuasan dorongan manusia dalam kerjasama dan produktivitas).
10. Carapandang peranserta
Dilandasi pemikiran bahwa setiap pejabat dalam organisasi tentu memiliki bakat, kepandaian, ketrampilan, gagasan ataupun kemampuan yang berbeda-beda yang apabila masing-masing dapat disumbangkan akan dapat menyempurnakan aktivitas organisasi.
11. Carapandang Tantangan dan Tanggapan
Salah satu perwujudan dari pendekatan tantangan dan tanggapan adalah para pejabat diberi pekerjaan sebanyak mungkin dalam usaha mencapai hasil yang baik.
12. Carapandang Pengarahan
Para pejabat dalam organisasi membutuhkan untuk diberi tahu apa yang harus dikerjakan. Para pejabat dalam organisasi memerlukan bimbingan, petunjuk, penjelasan tentang apa yang seharusnya mereka kerjakan. Disamping itu, carapandang pengarahan ini menekankan perlunya pejabat yang lebih mengetahui hendaknya memberitahu kepada pejabat yang belum mengetahui ataupun ingin mengetahui.
13. Carapandang Kontrol dan Keseimbangan
Dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, penyalahgunaan wewenang itu timbul karena tiada pembatasan terhadap perilaku pejabat. Dalam melaksanakan tugasnya berupa usaha mencegah, menahan, memeriksa, menegor, memperigatkan.
Dengan adanya usaha-usaha seperti itu, kesalahan tidakakan sampai berlarut-larut.
14. Carapandang Paternalisma
Berlandaskan pemikiran bahwa pejabat bawahan menganggap seoranng pemimpin itu lebih pandai, lwbih mampu, lebih tahu daripada bawahan. Bawahan tidak berani membuat keputusan sendiri walau hal itu jelas menyangkut bidang tugasnya.
15. Carapandang Pribadi
Dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa hubungan-hubungan antara pejabat akan dapat serasi apabila dilakukan secara langsung. Perintah, pembimbingan, petunjuk disampaikan secara lesan. Kadang-kadang pimpinan yang mendatangi bawahan, kadang-kadang bawahan yang dipanggi lpimpinan atau mendatangoi sendiri.
16. Carapandang Tanpribadi
Dilandasi oleh suatu pikiran bahwa organisasai tidak hanya ditandai oleh tujuan yang harus mereka capai, tetapi juga oleh perimbangan yang tinggi dari keahlian para pejabat. Dan pula ditandai oleh hubungan wewenang antara keahlian dan bukan keahlian yang disusun bahwa keahlian memiliki kewenangan yang lebih tinggi di atas tujuan utama aktivitas organisasi.
18. Carapandang Spesialisasi
Berlandaskan pemikiran bahwa pelaku organisasi akan dapat bekerja dengan sungguh-sungguh bila mereka diberi tugas yang khusus. Tugas khusus akan mempercepat tingkat kemahiran dari petugasnya.
19. Carapandang Sistem Tekniksosal
Berlandaskan pemikiran bahwa di dalam organisasi terdapat segi sosial dan segi teknik atau unsur bukan manusia , apabila kedua unsur dipadukan maka aktivitas organisasi akan dapat berjalan dengan lancar. Pendekatan ini sebagaai konsep organisasi yang mengakui bahwa kedua faktor mnausia dan bukan manusia termasuk teknologi, struktur, dan proses saling mempengaruhi untuk menentukan berfungsinya individu dan organisasi.
20. Carapandang Kontingensi
Carapandangnya dapat diterapkan dalam organisasi apapun dan dalam situasi yang bagaimanapun, atau kata lainnya universal. Pandangan kontingensi dari organisasi dan manajemen mengemukakan bahwa organisasi adalah sistem yang terdiri subsistem dan dilukiskan dengan pengenalan batas-batas lingkungannya suprasistem. Diarahkan untuk menvcapai rancangan-rancangan organisasi yang diharapkan dan kegiatan-kegiatan manajemen yang paling tepat untuk situasu khusus.
Pendekatan kontingensi ini dimaksudkan untuk menjembatani jurang perbedaan yang ada antara teori dan praktek. Pendekatan kontingensi memasukkan variabel-variabel lingkungan dalam analisanya, karena perbedaan kondisi lingkungan dan memerlukan aplikasi konsep dan teknik manajemen yang berbeda pula. Pendekatan kontingensi muncul sebagai tanggapan atas ketidakpuasan terhadap anggapan universalitas, dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai variabel lingkungan ke dalam teori dan praktek manajemen.
Pendekatan kontingensi (Contingency approach) ialah cara penerapan konsep-konsep dari berbagai aliran manajemen dalam situasi kehidupan nyata. Pendekatan kontingensi ini merupakan jawaban dari masalah yang dihadapi dalam praktek perusahaan, dimana sering kali ditemui adanya metoda-metoda yang sangat efektif dalam suatu situasi tetapi tidak akan berjalan dengan baik dalam situasi-situasi lainnya. Pendekatan kontingensi dikembangkan oleh berbagai pelaku usaha dalam berbagai bidang keahlian, seperti : manajer, konsultan dan peneliti.
Tugas manajer dalam pendekatan kontingensi adalah mengidentifikasikan teknik mana, pada situasi tertentu, di bawah keadaan tertentu, dan pada waktu tertentu, akan membantu pencapaian tujuan manajemen. Perbedaan kondisi dan situasi membutuhkan aplikasi teknik manajemen yang berbeda pula, karena tidak ada teknik, prinsip dan konsep universal yang dapat diterapkan dalam seluruh kondisi. Sebagai contoh :
>Karyawan suatu perusahaan membutuhkan dorongan untuk meningkatkan produktivitas. Pendekatan klasik akan mengemukakan tentang penyederhanaan kerja. Sedangkan pendekatan hubungan manusiawi akan berusaha menciptakan iklim yang dapat memotivasi karyawan dan mengusulkan perluasan kerja. Dari kedua pendekatan tersebut, mana yang lebih baik ? Bila karyawan tidak terdidik dan kesempatan latihan serta sumber daya terbatas, maka penyederhanaan kerja akan merupakan penyelesaian yang paling baik. Tetapi bila karyawan terlatih dan kepuasan kerja adalah kebutuhan mereka, maka program perluasan kerja mungkin lebih efektif. Aka tetapi kadang-kadang dalam situasi tertentu lebih pas apabila digunakan kombinasi kedua pendekatan tersebut.
Pendekatan kontingensi secara sederhana dapat dipandang sebagai suatu hubungan fungsional “bila – maka”, maksudnya :
>”bila” adalah vatiabel bebas (independent variable).
>”maka” adalah variabel bergantung (dependent variable).
Dalam manajemen kontingensi, lingkungan merupakan variabel bebas, sedangkan berbagai konsep dan teknik manajemen yang mengarahkan organisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya, berfungsi sebagai variabel bergantung.
Dalam kerangka konseptual menyeluruh untuk pendekatan kontingensi, terdapat tiga bagian penting yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Lingkungan.
2) Konsep-konsep dan teknik-teknik manajemen.
3) Hubungan kontingensi antara keduanya (nomor : 1 dan nomor :2).
Pemahaman terhadap hubungan-hubungan kontingensi ini memberikan berbagai pedoman bagi praktek manajemen yang efektif dan efisien. (2)
21. Carapandang Sifat-sifat Keunggulan
8 sifat keunggualn bagi suatu organisasi menurut Thomas J. Peters & Robert H. Waterman :
1.
Bebas bertindak
2.
Dekat para pelanggan
3.
Otonomi dan kewiraswastaan
4.
Produktivitas melalui orang
5.
Mewariskan nilai-nilai
6.
Penekanan pada urusan urusan internal organisasi
7.
Bentuk sederhana, sedikit tenaga kerja
8.
Serentak melepaskan-mengikat pengikat kerja
22. Carapandang Manajemen Strategis
Pemikiran carapandang ini adalah pembetukan struktur organisasi harus disesuaikan dengan perubahan-perubahan lingkungan.
23. Carapandang “Proactive Perfomance”
Carapandang ini adalah dalam mengurus organisasi harus cepat menanggapi perubahan, langganan, dan kebutuhan untuk mendapat dukungan sosial. Ciri-ciri carapandang ini adalah orang-orang yang terpadu, pemimpin yang berorientasi perubahan, satuan-satuan yang mandiri, berpusat pada penciptaan pasar baru, dan menerapkan struktur organisasi pipih.
24. Carapandang Kepemimpinan
Berlandaskan bahwa maju mundurnya organisasi, dinamis statisnya organisasi, tumbuh kembangnya organisasi, hidup matinya organisasi, senang tidaknya seseorang bekerja dalam suatu organisasi, serta tercapai tidaknya tujuan organisais ditentukan tepat tidaknya kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi yang bersangkutan. Dilandasi pemikiran bahwa untuk menjadi pemimpin yang berhasil melaksanakan pengaruhnya yang bersangkutan harus memiliki sifat-sifta tertentu. Beberapa sifat yang sebaiknya dimiliki oleh pemimpin adalah takwa, sehat, jujur, cakap, tegas, cerdik, berani, berilmu, efisien, disiplin, manuasiawi, bijaksana, bersemangat, percaya diri, berjiwa matang, adil, berkemauan keras, berdaya cipta asli, berwawasan situasi, berpengharapan baik, mampu berkomunikasi, berdaya tanggap tajam, mampu menyusun rencana, mampu membuat keputusan, mampu melakukan kontrol, bermotivasi kerja sehat, tanggung jawab, satuunya kata dan perbuatan, mendahulukan kepentingan orang lain.
Pendekatan perilaku dilandasi bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan gaya bertindak pemipin yang bersangkutan. Misalnya cara memerintah, cara memberi tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara mengarahkan, cara membangkitkan semangat kerja, cara menegakkan displin, melakukan kontrol, cara meminta laporan, cara menegur bawahan, cara meminta pertanggung jawaban, dan lain-lain. Ada pemimpin yang bersifat tegas adapula pemimpin yang bersikap dan bergaya halus, simpatik, interaksi timbal balik, menghargai pendapat, memerhatkan perasaan, membina hubungan serasi.
25. Carapandang Peranan Manajemen
Dilandasi pemikiran Henry Mintzberg yang menyatakan bahwa manajer memiliki peran 10 macam yang dikelompokkan menjadi 3 kategori peran.
Kategori pertama manajer berperan sebagai “interpersonal contact” (penghubung antar orang) yang meliputi Figurhead(tokoh), Leader(pemimpin), Liaison(Penghubung).
Kategori kedua manaajer berperan sebagai “information processing” (pemroses nformasi) yang meliputi Monitor, penyebar, jurubicara.
Kategori ketiga manajer berperan sebagai “decision making” (pembuat keputusan) yang meliputi Enterprenur, Pemegang gangguan, pembagi sumber, perunding.
Carapandang selain uraian diatas adalah adanya carapandang ekologi populasi, carapandang ketergantungan sumber daya, dan carapandang budaya organisasi.

Komentar
Posting Komentar